PEMDA HARUS PRIORITASKAN PEMBANGUNAN KESEHATAN

Masuknya isu kesehatan sebagai janji politik dalam kampanye pemilihan kepala daerah (Pilkada), seharusnya diimplementasikan pemerintah daerah dengan memprioritaskan pembangunan kesehatan. Selain itu di era desentralisasi, dalam menyusun rencana pembangunan kesehatan, Pemerintah Daerah hendaknya tidak menunggu bantuan dari Pusat tetapi harus dilakukan secara berkesinambungan dengan sumber daya dari Pemda dan Pusat secara bersama-sama.

Hal itu disampaikan. Dr. Sjafii Ahmad, MPH, Sekretaris Jenderal Depkes ketika membuka Lokakarya Nasional Pengembangan Kebijakan Pembangunan Kesehatan di Hotel Savoy Homann, Bandung 29 Juni 2009.
Selanjutnya ditegaskan untuk menyusun perencanaan dan kegiatan 5 tahun ke depan yaitu Renjana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 bidang kesehatan harus berbasis kinerja dan disertai besaran rencana anggaran. Oleh karena itu Depkes mengharapkan masukan atau tanggapan daerah karena setiap daerah mempunyai kekhususan dan keunikan tersendiri.

Sesjen Depkes mengingatkan pendekatan pembangunan kesehatan harus dilaksanakan dengan melibatkan lintas sektor dan lintas unit dengan menggunakan pendekatan sistemik. Sudah saatnya dilakukan melalui pendekatan dengan penguatan sistem kesehatan yang didukung kebijakan-kebijakan yang diperlukan. Jangan ada program yang jalan sendiri tanpa mengikutkan program lain. Tidak mungkin program penanggulangan TB berhasil kalau hanya meliputi diagnosis dan pengobatan saja, tanpa melibatkan program peningkatan gizi, program kesehatan kerja, program di rumah sakit atau dikaitkan dengan program rumah sehat. Semua program kesehatan harus dapat dikaitkan dalam suatu jaringan program yang saling membantu membentuk suatu Sistem Kesehatan Nasional, ujar Sesjen.

Karena itu Sesjen Depkes mengharapkan dalam pertemuan ini akan diketahui keterikatan setiap program, menuju kepada tujuan yang sama yaitu cakupan total bagi semua penduduk/universal coverage.

Menurut Sesjen, Pemda harus memahami bahwa tujuan utama dari program adalah mencapai cakupan total/universal coverage terhadap upaya kesehatan. Artinya upaya kesehatan yang terdiri dari pelayanan preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif harus mampu terjangkau dan dijangkau oleh seluruh masyarakat Indonesia dimanapun dia berada. Juga tidak boleh lagi ada hambatan geografik, perilaku maupun ekonomi.

Lokakarya nasional yang berlangsung selama 3 hari ini membahas 18 topik yang dipaparkan pejabat Depkes dan pembicara tamu dari Kantor Menpan, WHO, beberapa Kepala Dinas Kesehatan Provinsi, Ketua Umum Persatuan Rumah Sakit seluruh Indonesia (PERSI), dan lain-lain. Topik yang dibahas antara lain Strategi menuju Pencapaian MDGs melalui Pendekatan Revitalisasi Primary Health Care oleh dr. Budihardja, MPH, Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat; Kebijakan Rujukan dalam Antisipasi Globalisasi dan Jamkesmas oleh dr. Farid Husain, Sp.B, Dirjen Bina Pelayanan Medik; Hasil Riskesdas dalam Kaitannya dengan Isu-isu Daerah oleh Dr. Agus Purwodianto, Sp.F, SH, Kepala Balitbangkes; Strategi Menuju Eradikasi Penyakit Menular dalam Konteks Global oleh Dr. Guntur Gunawan Sesditjen P2PL; Kebijakan Ketersediaan Obat di daerah dan Penggunaan Obat Tradisional oleh Dra. Kustantinah, M.Apt.Sc, Dirjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan; Strategi Menuju Universal Coverage Jaminan Kesehatan oleh dr. Chalik Masulili, Kepala Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan.

Narasumber lainnya Dr. Ismail Mohamad, MBA, Deputi Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Bidang Tatalaksana, Kementerian Pendayagunaan Aparatur memaparkan Reformasi Birokrasi dalam Mendukung Tata Kelola Pemerintahan yang Baik, dan dr. Nyoman Kumara Rai, MPH dari WHO SEARO memaparkan Peningkatan Kinerja Sistem Kesehatan.

Dr. Untung Suseno, Kepala Pusat Kajian Pembangunan Kesehatan yang juga Ketua Panitia melaporkan maksud penyelenggaraan lokakarya ini adalah dalam rangka menjalin interaksi dan komunikasi antara stakeholder pusat dan daerah dalam rangka mengembangkan pembangunan kesehatan di era desentralisasi.

Adapun tujuan khusus lokakarya ini yaitu diindetifikasikannya pembangunan kesehatan di pusat dan daerah, diidentifikasikannya isu strategis tantangan yang dihadapi, upaya terobosan dan potensi yang dimiliki pusat dan daerah dalam pembangunan kesehatan, dan disepakatinya upaya tindak lanjut dalam rangka peningkatan kualitas kebijakan pembangunan kesehatan.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-5223002 dan 52960661, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id.

PENGUMUMAN TENAGA KESEHATAN HAJI INDONESIA (TKHI) TAHUN 2009

PELATIHAN TIM KESEHATAN HAJI INDONESIA (TKHI) THN 2009

Dalam rangka mendukung program pelayanan kesehatan haji, dilakukan upaya meningkatkan kualitas pelayanan dengan menyediakan tenaga kesehatan yang berkompeten mencakup Tim Kesehatan Haji Indonesia dalam kelompok terbang (TKHI Kloter). Dalam menyiapkan TKHI, direncanakan akan dilatih calon TKHI sesuai dengan jumlah recruitment dari Biro Umum Departemen Kesehatan, yang berasal dari seluruh provinsi di Indonesia.

Sehubungan dengan hal tersebut, Pusdiklat SDM Kesehatan akan melaksanakan Pelatihan TKHI yang penyelenggaraannya akan dilakukan di 13 embarkasi. Demi kelancaran pelaksanaan pelatihan TKHI tersebut, maka penyelenggara pelatihan di tiap embarkasi perlu mengikuti Ketentuan Pelatihan yang telah dibuat oleh Pusdiklat SDM Kesehatan.
Berikut adalah Ketentuan Pelatihan Tim Kesehatan Haji Indonesia Tahun 2009:
Surat KEtentuan

jadwal_&_contact_person

lampiran_formulir

60 Merek Obat Tradisional dan Suplemen Makanan Dimusnahkan

Enam puluh jenis obat tradisional dan suplemen makanan yang mengandung bahan kimia obat (BKO) ditarik dan dimusnahkan. Obat tersebut terdiri dari 6 item obat tradisional pelangsing diantaranya Qianjiali Kapsul Pelangsing dan Lasmi Kapsul, 9 item obat tradisional dan suplemen makanan penambah stamina pria diantaranya New Idola Kapsul dan Purwoceng Serbuk, serta 45 obat tradisional lainnya seperti Pamong Raga Pegal Linu dan Gatal Eksim Serbuk. Selengkapnya dapat dilihat dalam lampiran. Baca selebihnya »

PEMAPARAN/SOSIALISASI RENCANA PEMBUKAAN PROGRAM KHUSUS DIII-KEBIDANAN DI LUWUK

Mengingat masih tingginya angka kematian ibu dan bayi di Kabupaten Banggai dipandang perlu untuk membuka sekolah khusus kebidanan untuk meningkatkan kompetensi bidan desa yang sudah ada di kabupaten banggai,dari data yang ada jumlah bidan di Kabupaten banggai sebanyak 259 orang baik yang ada di RS,Puskesmas,Akper,Dinkes,dan Klinik, dengan spesifikasi ilmu DIV,DIII,dan Bidan Desa (Bidan A dan C).

akper

Oleh karena itu diadakanlah pemaparan/sosialisasi rencana pembukaan program khusus DIII-Kebidanan di Luwuk,adapun sosialisasi tersebut diselenggarakan pada tanggal 2 juni 2009 di aula Dinkes Banggai. Pemaparan rencana pembukaan DIII-Kebidanan di paparkan oleh dr.Anang Otoluwa,MPPH selaku Direktur Akper Luwuk. Dalam pemaparannya disebutkan bahwa tujuan pembukaan program khussu ini untuk meningkatkan kompetensi dan kualitas SDM tenaga kebidanan. Jumlah peserta didik direncankan sebanyak 40 orang/kelas Lokasi pendidikan di Akper Luwuk.

peserta sosialisasi

Untuk tenaga pengajar/dosen yang ada sekiranya sudah cukup ,yakni berasal dari dosen poltekes, dosen tetap , dosen Akper, dan dosen luar biasa. Untuk peserta didik ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi diantaranya :

  1. Lulus Bidan A dan C
  2. Bekerja di pelayana kesehatan > 2 tahun
  3. Berbadan Sehat
  4. Sanggup mengikuti pendidikan
  5. Mendapat Izin tertulis dari pimpinan

akper3Dalam kegiatan sosialisasi tersebut dipaparkan juga rencana kurikulum pendidikan program khusus tersebut, dari kurikulum tersebut timbul pertanyan dari Derthan,SKM,M.Kes (Kasie. Promkes) Dinkes Banggai,beliau mengatakan bahwa dari hasil penelitian yang telah beliau lakukan dan penelitian yang ada menunjukan bahwa kemampuan bidan dalam hal konseling dan sosial masih sangat rendah yang menjadi faktor pemicu sehingga kematian ibu hamil masih cukup tinggi dan penanganan dan deteksi dini bumil beresiko tinggi yang masih rendah. Untuk itu beliau menyarankan agar dalam kurikulum pendidikan tersebut di masukan hal-hal yang terkait dengan peningkatan konseling dan sosial bidan.

a.Bekerja di pelayanan > 2 tahun

HATI-HATI MENGGUNAKAN PERALATAN MAKAN DARI MELAMIN

Masyarakat diminta berhati-hati menggunakan peralatan makan dari melamin karena berdasarkan hasil pemeriksaan Badan POM, 30 produk peralatan makan melamin berupa piring, mangkuk, sendok, garpu, gelas, dan sodet yang beredar di Indonesia terbukti positif melepaskan formalin dan melamin yang berpotensi membahayakan kesehatan.

Hal itu disampaikan oleh Kepala Badan POM Dr. Husniah Rubiana Thamrin Akib, MS, M.Kes, SpFK kepada para wartawan di Jakarta, Senin 1 Juni 2009 ketika mengumumkan Peringatan/Public Warning tentang Peralatan Makan dari Melamin. Baca selebihnya »

BPOM……4 PRODUK DENDENG/ABON POSITIF MENGANDUNG DNA BABI

4 produk dendeng/abon dinyatakan positif mengandung DNA babi. Keempat produk tersebut adalah:

1. Dendeng Sapi Dua Daun Cabe Kwalitet Istimewa, kemasan 200 gram, no. pendaftaran PIRT 201357303247, produksi Malang,

2. Dendeng Sapi Brenggolo Kwalitet Istimewa, kemasan 200 gram, no. pendaftaran PIRT 201357303247, produksi Malang,

3. Dendeng Sapi Brenggolo Kwalitet Istimewa–Giling, kemasan 200 gram, no. pendaftaran PIRT 201357303247, produksi Malang, serta

4. Dendeng/Abon Sapi Spesial Dua Dinar, kemasan 80 gram, no. pendaftaran 0365/10/01/95, produksi Bandung. Baca selebihnya »

DERAJAT KESEHATAN DAN STATUS GIZI MASYARAKAT 4 TAHUN TERAKHIR MEMBAIK

Dalam empat tahun terakhir, derajat kesehatan dan status gizi masyarakat Indonesia telah semakin membaik. Hal ini ditandai dengan berhasil diturunkannya Angka Kematian Ibu dari 307 per 100.000 kelahiran hidup tahun 2004 menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2007, Angka Kematian Bayi dari 35 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2004 menjadi 26,9 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2007, dan prevalensi gizi kurang 23,2% pada tahun 2003 menjadi 18,4% tahun 2007

Keberhasilan ini merupakan hasil kerja keras kita semua termasuk jerih payah kader Posyandu di seluruh Indonesia yang tidak pernah mengenal lelah dan dengan sukarela menyumbangkan tenaga, pikiran dan waktunya untuk upaya perbaikan gizi keluarga, imunisasi, kesehatan ibu anak dan keluarga berencana, penanggulangan diare dan promosi perilaku hidup bersih dan sehat. Baca selebihnya »

KAMPANYE EDUKASI “AYO PERIKSA, SEMBUHKAN SEGERA” UNTUK TANGGULANGI HEPATITIS DI INDONESIA

Pemerintah Indonesia bekerja sama dengan Perhimpunan Penelitian Hati Indonesia (PPHI), Blitz Megaplex, Gold Gym dan Roche Indonesia, hari ini memperingati Hari Hepatitis Sedunia 2009 dengan melakukan kegiatan peningkatan kesadaran masyarakat, pemeriksaan, perawatan dan pengobatan Hepatitis C.

Menkes RI, Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K) dalam sambutan yang dibacakan dr. Rachmi Untoro, MPH Staf Ahli Menkes Bidang Mediko Legal pada peluncuran program kegiatan berbasis edukasi melalui kampanye ” Ayo Periksa, Sembuhkan Segera ” di Jakarta (19/05, 2009), mengatakan sekitar 7 juta orang Indonesia hidup dengan Hepatitis C kronik, dan diperkirakan terdapat ribuan infeksi baru muncul setiap tahunnya. Untuk mengatasi hal ini diperlukan kemitraan yang baik antara pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan, organisasi profesi kesehatan, LSM peduli Hepatitis C dan dunia usaha. Baca selebihnya »

KASUS DBD DI KAB.BANGGAI CENDERUNG MENGALAMI TREND PENURUNAN THN 2009

LWK POST – Berbagai kegiatan yang diprogramkan Dinas Kesehatan Kabupaten Banggai untuk mengatasi kasus demam berdarah dengue nampaknya membuahkan hasil. Buktinya, selama lima bulan terakhir, kasus demam berdarah yang mencuat ke permukaan hanya sekitar 7 kasus saja. Jumlah tersebut relatif lebih rendah dibanding tahun 2008 lalu. Dimana selama periode bulan Januari sampai Mei mencapai 65 kasus. Baca selebihnya »