Autokritik Buat Profesi Kedokteran

SECARA umum citra profesi ini masih berada dalam kelompok profesi yang mempunyai citra yang tidak jatuh begitu dalam di mata masyarakat. Namun profesi ini juga telah menjadi sorotan miring dan negatif.

Fakultas Kedokteran sebagai suatu institusi sesungguhnya mempunyai tujuan dan jati diri yang luhur. Fakultas Kedokteran lahir sebagai tuntutan kondisi masyarakat yang yang masih bertumpuknya masalah kesehatan.

Ia hadir untuk ikut langsung menuntaskan masalah-masalah penyakit infeksi yang tak kunjung selesai serta penyakit kronik degeneratif yang mulai menggunung. Sehingga secara tertulis dan teoritis, Fakultas Kedokteran bertujuan untuk melahirkan dokter yang mempunayi ilmu dan skill medis dan klinis yang baik, bermoral dan ber-etika serta berwawasan luas.

Idealis memang, namun begitukah cita-cita luhur hadirnya, dan harapan setiap lulusannya.  Dengan istilah yang lebih popular dalam pendidikan kedokteran, Fakultas Kedokteran bertujuan melahirkan dokter yang “Professionally qualified, socially, and culturally acceptable.”

Saat ini juga masih banyak orang tua yang mengidam-idamkan agar anaknya kelak menjadi dokter. Tidak jauh berbeda, bila ditanyakan pada anak-anak yang yang masih di sekolah dasar apakah cita-cita mereka, maka di antara jawaban mereka selain menjadi pilot, ahli komputer, dan presiden; menjadi dokter juga salah satu cita-cita mereka. Ini menjadi bukti bahwa, dari sedikit noda yang dimiliki profesi ini, ia tetap menjadi salah satu impian.

Banyak motif dan harapan mengapa seorang orang tua ingin anaknya menjadi dokter. Dan banyak juga alasan mengapa seorang tamatan SLTA mendaftar untuk masuk Fakultas Kedokteran. Mulai dari karena alasan klasik memperbaiki masa depan, hanya ikut-ikutan tren dan teman, hingga mengikuiti paksaan orang tua.

Namun di antara seribu alasan itu, masih ada tersisa dan tersisip tujuan mulia; ingin membantu sesama dan menolong orang yang tak mampu. Artinya, masih ada niat tulus dan murni bagi orang-orang yang ingin menjadi dokter.

Jika hal ini digabungkan dengan dengan tujuan pendidikan di Fakultas Kedokteran, di mana mereka akan berproses nantinya, maka idealnya akan melahirkan dokter yang berkebribadian luhur.

Namun akhir-akhir ini kritikan tajam dan pedas datang mengantam profesi yang mulia ini. Profesi kedokteran yang dulunya dipuja, disanjung dan dinantikan kehadirannnya, kini mulai luntur. Bahkan, sudah mulai ada hujatan terhadap profesi ini yang seharusnya berwibawa. Lalu tentunya kita bertanya, mengapa bisa begini?

Tentu banyak yang menjadi penyebab mengapa telah terjadi perubahan atas citra profesi ini. Zaman yang telah berubah, tuntutan masyarakat yang tinggi, sistem pelayanan kesehatan juga merupakan faktor yang sangat menentukan.

Namun peran kita (dokter) tidaklah kalah pentingnya. Ibarat pepatah minang mengatakan, “Kalau indak ado barado, indak tampua basarang randah,” yang artinya kira-kira sama dengan, “Kalau tidak ada api tidak akan ada asap.”

Artinya, sumber atau pelaku utama sangat berpengaruh akan efek yang muncul. Dalam hal ini prilaku dokter sangat menentukan bagaimana citra profesi ini.

Memang benar, di antara kita (para dokter) masih banyak yang senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai luhur profesi, dengan norma agama dan nilai-nilai kemanusian yang dianut. Akan tetapi, kesalahan yang dibuat oleh segelintir sejawat sudah mencemarkan profesi ini. Hukum sosial akan bermain, dimana perbuatan salah oleh dokter adalah suatu yang bertolak belakang dengan nilai-nilai yang seharurnya dimiliki. Ini adalah suatu ‘keanehan’, dan keanehan akan menjadi sorotan. Sorotan yang berulang-ulang akan menjadi asumsi umum. Akhirnya, dengan asumsi yang sudah mulai negatif maka janganlah heran, sedikit saja kekhilafan yang dibuat oleh dokter tidak bisa dimaafkan oleh masyarakat. Maka ini jugalah salah satu faktor yang menyebabkan munculnya berbagai dugaan malpraktek.

Harus diakui, pada kenyataannya di mata masyarakat profesi kedokteran telah menjadi berubah menjadi seperti sebuah ‘menara gading.’ Megah-mewah tapi tidak melindungi. Seperti sebuah menara yang hanya dapat diraih oleh orang-orang tertentu. Makin mewah menaranya, makin susah untuk meraihnya, dan makin megah menaranya makin tinggi pula biaya untuk mendapatkannya.

Kalau dilihat lebih jauh, berperilaku sesuai nilai-nilai luhur tidak hanya berdasarkan tuntutan agama dan sosial. Berperilaku profesional, mempuyai budi luhur dan menghargai pasien ditegaskan juga pada lafal Sumpah Dokter yang diucapkan ketika seorang ‘dilantik’ (judisium) menjadi dokter.

Dari 10 poin sumpah tersebut, ada 3 poin yang secara eksplisit dan tegas berkaitan langsung dengan sikap terhadap pasien.

Tambahan lagi, pada 2004 telah diundangkan secara spesifik Undang-Undang (UU) tentang Praktek Kedokteran (UU No. 29/2004). Terlepas adanya pro dan kontra akan kelengkapan dan muatan UU tersebut, namun di dalamnya sebenarnya hanya menegaskan akan arti pentingnya ‘Prilaku Profesional”; yakni mengerti dan mentaati aturan administratif, dan menghormati hak dan tanggung jawab pasien.

Akhir kata, penulis menyampaikan bahwa tulisan ini hadir sebagai autokritik pribadi buat profesi dokter (kita): buat saya dan anda para sejawat dokter semuanya. Tidak ada maksud lain, kecuali ingin mengubah diri dan mengajak sejawat semua untuk kembali dan senantiasa manjunjung tinggi nilai-nilai luhur profesi. Yang akhirnya mengembalikan citra dan kewibawaan profesi ini. Semoga…!

*)Hardisman, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (FK-Unand), Padang & Alumni Flinders Medical School and Medical Center, South Australia

Satu Tanggapan

  1. ibaratnya panas setahun dihapus hujan sehari
    so… u/ para dokter banyak PR menanti anda
    Tunjukkan profesionalitas, moral dan etika
    jadi orang penting itu emang baik, tapi lebih penting lagi jadi org baik…
    be a good man in a good job

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: