Menkes Luncurkan 10.000 Desa Bersanitasi Baik

Hari ini, Menteri Kesehatan Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp.J(PK) membuka Konferensi Nasional Pengelolaan Air Minum Rumah Tangga (Konas PAM-RT) dan meluncurkan 10.000 desa kegiatan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), di Jakarta. Konas PAM-RT tahun 2008 yang baru pertama kali diselenggarakan, mengangkat tema “Air Sehat untuk Hidupku”.

Menurut Menkes, acara ini merupakan implementasi paradigma baru pelaksanaan program – program kesehatan, sebagai terjemahan dari amanat UUD 1945 bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.

Tema Konas PAM-RT terkait dengan pencapai target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004-2009 dan komitmen Milenium Development Goals (MDG) dalam meningkatkan penyediaan air minum yang memenuhi standar kesehatan, meningkatkan perilaku pengelololaan air minum di rumah tangga, memperkenalkan aneka pilihan pengolahan air minum skala rumah tangga yang murah, terjangkau dan aman serta penggunaan dalam situasi bencana dan pelayanan pada daerah terpencil, perbatasan dan pulau-pulau terluar, papar Dr. Siti Fadilah.

Sesuai RPJMN 2004-2009 tujuan pembangunan kesehatan diarahkan untuk mencapai empat sasaran yaitu, meningkatnya usia harapan hidup (UHH) dari 66,2 tahun menjadi 70,6 tahun (saat ini sudah tercapai 70,5 tahun); menurunnya angka kematian bayi (AKB) dari 30,8 menjadi 26 per 1000 kelahiran hidup (saat ini sudah tercapai 26,9); menurunkan angka kematian ibu (AKI) melahirkan dari 270 menjadi 226 per 100.000 kelahiran hidup (saat ini sudah tercapai 248); dan menurunnya prevalensi gizi kurang pada anak balita dari 25,8% menjadi 20% (saat ini sudah tercapai 21,9%).

Program Lingkungan Sehat sangat berperan dalam mencapai sasaran lima program prioritas tersebut, khususnya program prioritas keempat dan kelima, karena sebagaian besar penyakit menular dapat dicegah dengan perbaikan kesehatan lingkungan dan dalam situasi bencana,kebutuhan akan ketersedian air minum dan fasilitas sanitasi menjadi kebutuhan utama masyarakat yang terkena dampak dan apabila tidak terlayani dapat berakibat pada krisis kesehatan seperti Kejadian Luar Biasa penyakit menular, ujar Menkes.

Menkes menambahkan, pembangunan kesehatan akan dapat dicapai dengan memberdayakan masyarakat agar mampu secara mandiri memenuhi kebutuhan kesehatan yang berkesinambungan. Selain itu, masyarakat juga didorong untuk mengembangkan sejumlah prakarsa kegiatan STBM. STBM adalah kegiatan pemberdayaan masyakat untuk mengubah perilaku masyarakat untuk lebih higienis melalui 5 perilaku, yaitu Stop buang air besar sembarangan (stop BABS), Cuci tangan pakai sabun (CTPS), pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga (PAM RT), Pengelolaan limbah rumah tangga, dan Penanganan sampah yang aman

Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, dr. I Nyoman Kandun yang juga sebagai Ketua Penyelenggaran kegiatan ini menyebutkan, pemerintah telah melaksanakan beberapa kegiatan, antara lain melakukan uji coba implementasi STBM di 6 Kabupaten pada tahun 2005 dan pencanangan kampanye cuci tangan secara nasional oleh Menko Kesra bersama Menkes, Mendiknas dan Meneg Pemberdayaan Perempuan tahun 2007 di lapangan Monas.

STBM telah diterapkan di beberapa lokasi oleh berbagai lembaga, baik pemerintah maupun non pemerintah. “Hasilnya cukup menggembirakan yaitu adanya perubahan perilaku stop buang air besar di sembarang tempat di sekitar 160 desa pada tahun 2006 dan 450 desa/komunitas pada tahun 2007,”. Diharapkan tahun 2008 penerapan pendekatan STBM dapat dilakukan di 10.000 desa dari 214 kabupaten/kota di 27 Propinsi, jelas dr. Nyoman.

Dr. Nyoman menambahkan berdasarkan hasil studi WHO 2007, kejadian diare dapat diturunkan melalui beberapa cara, yaitu:

  • 32% melalui peningkatan akses masyarakat terhadap sanitasi dasar,
  • 45% melalui perilaku mencuci tangan pakai sabun,
  • 39% melalui perilaku pengelolaan air minum yang aman di rumah tangga.
  • Sedangkan dengan mengintegrasikan ketiga perilaku tersebut, kejadian diare menurun sebesar 94%.

Kondisi tersebut berkontribusi terhadap tingginya angka kejadian diare di Indonesia. Hal ini terlihat dari angka kejadian diare nasional tahun 2006 sebesar 423/1.000 penduduk pada semua umur (hasil survei Subdit Diare, Ditjen PP&PL Depkes). SKRT tahun 2001 menyebutkan angka kematian diare pada Balita sebesar 75,3/100.000 balita, sementara angka kematian diare untuk semua umur sebesar 23,2/100.000 penduduk.

Dari hasil studi Basic Human Services tahun 2007, hampir semua rumah tangga di Indonesia (99,20%) memasak air untuk mendapatkan air minum, namun akibat tidak dikelola dengan baik sekitar 47.5% tetap mengalami kontaminasi bakteri e.coli.

PAM-RT yang mencakup berbagai opsi pengolahan air minum dan penyimpanannya telah berkontribusi dalam peningkatan kualitas air minum dan penurunan kasus diare. Hasil studi tahun 2007 menunjukkan bahwa dengan meningkatkan perilaku pengelolaan air minum yang aman di rumah tangga, kejadian diare akan menurun sebesar 39%. Selama ini pemerintah telah mengenalkan metode pengelolaan air layak minum seperti klorinisasi, filtrasi, dan solar water disinfectant (Sodis).

Konferensi berskala nasional ini diikuti 400 peserta dan dilaksanakan untuk menjawab tantangan yang ada. Air layak minum adalah hak setiap warga negara, dan merupakan kewajiban pemerintah untuk mengadakannya. Dari laporan pencapaian target MDGs sampai tahun 2006, baru sekitar 52,1% penduduk Indonesia mendapat akses air minum, sementara kualitas air PDAM bagi mereka yang tersedia pun hanya memenuhi syarat kualitas bakteriologis sebesar 73,8%.

Hadir dalam acara ini anggota Komisi IX DPR RI, Pejabat Eselon I dan II Pusat Instansi terkait, Bupati, serta perwakilan Lembaga Internasional (WHO) dan Negara Tetangga seperti Thailand, Nepal, LSM serta perguruan tinggi.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-5223002 dan 52921669, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id.

Iklan

2 Tanggapan

  1. Dengan strategi dan taktik tepat kita pasti bisa (dari Lumajang-Jatim)

  2. substansi sebuah program, adalah keseriusan dalam pelaksanaan, ekses dari kegiatan bukan tujuan idealnya ….begitu, semoga kita sebagai tenaga kesehatan sadar sepenuhnya akan tugas pokok & fungsi
    bravo tenaga kesehatan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: