Menkes Luncurkan Program Pendataan Penyakit Hepatitis C Tahap II

Menkes Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp. JP(K), di Jakarta meluncurkan Program Pendataan Penyakit Hepatitis C Tahap II dalam rangka Pengembangan Sistem Surveilans di Indonesia (11 September 2008). Program ini akan berlangsung dari tanggal 1 Oktober 2008 – 31 Maret 2009. Lokasi pendataan meliputi 10 propinsi dengan 135 unit pelapor yang tersebar diseluruh Indonesia. Kesepuluh propinsi tersebut yaitu Kepulauan Riau, Jambi, Riau, Lampung, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sumatera Barat, Banten, DI Yogyakarta, NTB.

Sebelumnya, program Tahap I yang dilaksanakan sejak 1 Oktober 2007 melibatkan 11 propinsi dengan 49 unit pelapor. Pelaksanaan program Tahap I meliputi Propinsi DKI Jakarta, Sumatera Utara (Medan), Sumatera Selatan (Palembang), Jawa Barat (Bandung), Jawa Tengah (Semarang), Jawa Timur (Surabaya), Sulawesi Selatan (Makasar), Sulawesi Utara (Manado), Bali (Denpasar) dan Kalimantan Barat (Pontianak) serta Papua (Jayapura).

Pada Tahap I, tingkat partisipasi dari unit-unit yang terlibat pelaporan sangat tinggi (96%), melampaui target yang biasa ditentukan untuk ukuran keberhasilan pelaksanaan program (80%). Keberhasilan pelaksanaan Tahap I ini menegaskan komitmen Pemerintah Indonesia bersama dengan pihak yang terlibat untuk mengurangi tingkat penyebaran dan masalah sosial yang disebabkan oleh penyakit menular baik bagi orang yang terinfeksi maupun orang lain di sekitarnya.

Tahun 2006, Indonesia menjadi yang terdepan di tingkat regional dalam strategi penanganan hepatitis C dengan mengembangkan Strategi Nasional Hepatitis C, yaitu memasukkan penyakit hepatitis dalam daftar penyakit yang wajib dilaporkan. Pengembangan sistem surveilans yang sedang berjalan sekarang merupakan bagian utama dalam strategi ini.

Menkes Fadilah Supari dalam sambutannya menegaskan, pencegahan, pengobatan dan surveilans tetap menjadi tiga kunci utama dalam strategi penanganan hepatitis C. “Kita harus terus melakukan peningkatan dalam ketiga area tersebut apabila kita ingin mengurangi penyebaran hepatitis C, mengurangi beban yang terkait dengan penyakit ini dan meningkatkan pemahaman kita tentang virus dan faktor-faktor resikonya di negara kita,” tegas Menkes dihadapan undangan. Hadir dalam acara ini Staf Khusus Menkes Bidang Kesehatan Publik, pejabat dari Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Ditjen PP & PL) Depkes, jajaran direksi PT. Roche, perwakilan dari 10 Dinas Kesehatan Propinsi yang terlibat dalam program Tahap II, anggota Pokja Hepatitis, akademisi, serta wakil dari Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI).

Menkes juga mengingatkan pentingnya peran komunitas medis dalam memonitor dan melaporkan penyakit hepatitis C. Siapa saja yang terlibat dalam sistem pelaporan harus berperan secara aktif untuk memastikan bahwa setiap kasus dilaporkan tepat waktu dan dengan data yang berkualitas.

”Kita yang terlibat dalam sitem layanan kesehatan, bertanggung jawab atas kelancaran pelaksanaan program ini. Paramedis dan dokter harus benar-benar paham mengenai penyakit ini dan secara proaktif merekomendasikan para pasien yang berisiko untuk menjalani tes dan mendapatkan pengobatan yang tepat guna,” tegas Menkes.

Program Pendataan Penyakit Hepatitis C dalam rangka Pengembangan Sistem Surveilans di Indonesia merupakan program kemitraan pemerintah swasta yang diinisiasi oleh Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Ditjen PP & PL) dan PT. Roche Indonesia.

Presiden Direktur PT. Roche Dr. Ait_Allah Mejri, kembali menegaskan komitmen PT. Roche dalam mencapai tujuan bersama meningkatkan kesehatan masyarakat Indonesia. “Program ini merupakan suatu kerangka koordinasi yang terintegrasi untuk mengatasi hepatitis C di Indonesia,” jelasnya.

Mengacu pada data WHO, Menkes menyebutkan, sekitar 7 juta orang Indonesia diduga mengidap virus hepatitis C dan diperkirakan terdapat ribuan infeksi baru muncul setiap tahunnya. Sekitar 90% dari orang yang mengidap hepatitis C tidak sadar bahwa dirinya telah terinfeksi sampai gejala-gejalanya muncul bertahun-tahun kemudian.

Dengan adanya terobosan terbaru dalam penatalaksanaan hepatitis C saat ini, terbukti telah meningkatkan kesempatan pasien untuk sembuh. Bahkan saat ini dalam 3 bulan terapi, sudah dapat memprediksi pencapaian kesembuhan pasien dengan memeriksa HCV RNA (early virological response). Demikian disampaikan Ketua PPHI Dr. Unggul Budihusodo, SpPD – KGEH.

Namun demikian, Ketua Kelompok Kerja Hepatitis Depkes yang juga adalah ahli hati, Prof. Dr. dr. H. Ali Sulaiman, PhD, SpPD-KGEH, mengingatkan pentingnya ketersediaan layanan dalam pengobatan hepatitis C. “Surveilans tanpa perbaikan akses terhadap layanan dan dukungan tidak akan berfaedah apa-apa. Jika kita tidak melakukan apa-apa untuk mengatasi hal ini sekarang maka dalam kurun waktu 10 -15 tahun kedepan kita akan menuai ratusan ribu orang yang membutuhkan transplantasi hati, dan rumah sakit akan kewalahan menangani pasien dengan stadium akhir yang tak terobati dan kanker hati. Bila hal ini terjadi maka biaya untuk kesehatan masyarakat yang harus dikeluarkan dan beban masyarakat akan tak terbayangkan.”

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-52921669 dan 5223002, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id.

Satu Tanggapan

  1. sAya pengidap hepatitis c tapi sy dah berobat selama 6 bln disuntik dan badan sy udah mulai enak tpi bila sy banyk mslh langsung kontan sakit badan ini apakah bisa kumat lagi penyakit ini?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: