BERBAGAI PENYAKIT RAKYAT DAPAT DI ATASI

depkesLima puluh sembilan tahun yang lalu (1950), Dr. Poerwo Soedarmo, Bapak Gizi Indonesia, membentuk Lembaga Makanan Rakyat untuk memperbaiki gizi rakyat Indonesia dan mendirikan Sekolah Ahli Diit yang memproduksi tenaga profesional ahli gizi, yang pada masa sekarang dikenal sebagai Direkorat Bina Gizi Masyarakat Departemen Kesehatan dan Akademi Gizi.

Dalam kurun waktu 59 tahun memerangi masalah gizi di Indonesia, saat ini berbagai kemajuan dan keberhasilan sudah banyak dicapai. Penyakit “rakyat” seperti hunger oedema (H.O) atau beri-beri, xeropthalmia, pellagra dan lain-lainnya, pada saat ini sudah sangat jarang ditemukan. Meskipun telah banyak keberhasilan, kekurangan gizi makro (kekurangan energi protein) baik akut maupun kronis masih banyak ditemukan, terutama pada masyarakat miskin, perdesaan dan wilayah timur Indonesia. Demikian pula halnya dengan kekurangan gizi mikro (kekurangan vitamin mineral) yang dikenal sebagai “silent hunger” seperti anemia gizi besi, gondok endemik, masih banyak ditemukan terutama pada anak-anak, ibu hamil dan ibu menyusui.

Hal itu disampaikan dr. Budihardja, DTM&H, MPH, Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat, pada pembukaan Seminar “Pola Makan Gizi Seimbang Meningkatkan Kualitas Hidup” dalam rangka memperingati Hari Gizi Nasional (HGN) ke-59 di Jakarta tanggal 10 Februari 2009.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2007, selain kekurangan gizi, penyakit infeksi (diare, infeksi saluran pernapasan akut) dan penyakit menular (malaria, TBC dan HIV/AIDS), masalah kelebihan gizi (kegemukan dan obesitas), penyakit tidak menular seperti jantung dan pembuluh darah, stroke, hipertensi, diabetes mellitus menunjukkan kecenderungan yang meningkat. Bahkan penyakit ini telah menjadi sebab utama kematian di Indonesia. Artinya, telah terjadi transisi epidemiologi, karena sebelumnya penyakit utama kematian adalah penyakit menular, ujar dr. Budihardja.

Ditambahkan, masalah overweight dan penyakit tidak menular sudah harus mendapat perhatian, sementara gizi buruk dan penyakit infeksi belum teratasi. Terjadinya masalah gizi disebabkan oleh jumlah dan mutu asupan gizi serta kondisi kesehatan dan penyakit yang diderita seseorang. Faktor-faktor yang berpengaruh adalah ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga, akses terhadap pelayanan kesehatan, air bersih dan sanitasi dasar, serta pola asuh sadar gizi keluarga.

Sedangkan keadaan yang mendasari berbagai masalah gizi tersebut antara lain adalah kemiskinan, pendidikan dan tingkat daya beli masyarakat. Dengan demikian, mengatasi masalah gizi di Indonesia, tidak hanya tanggungjawab Depkes saja, tetapi juga menjadi tanggungjawab sektor lainnya seperti pertanian dan ekonomi, dan masyarakat, termasuk masyarakat umum seperti mahasiswa, kader, dunia usaha dan media yang hadir pada pagi hari ini, papar dr. Budihardja. Menurut dr. Budihardja, sesuai dengan pembagian kelompok makanan yaitu makanan pokok, lauk pauk, sayuran dan buah, menjadi lima karena ditambah susu, maka dikenal dengan Slogan Empat Sehat Lima Sempurna. Slogan ini pertama kali diperkenalkan oleh dr. Poerwo Soedarmo pada kurun 1950-an.

Slogan tersebut mengacu pada slogan yang digunakan di USA pada tahun 1940-an (basic seven, sesuai pembagian makanan di USA). Dengan berkembangnya ilmu gizi dan kesehatan secara pesat, maka slogan Empat Sehat Lima Sempurna diperbarui lagi sebagai pedoman diet yang menekankan pada prinsip keseimbangan makanan, balance diet atau Pedoman Gizi Seimbang.

Secara internasional, pedoman ini digambarkan dalam bentuk piramid, yang di Indonesia digambarkan sebagai “tumpeng”. Proporsi terbesar, di bagian dasar tumpeng adalah kelompok karbohidrat sebagai sumber energi. Diatasnya, kelompok buah dan sayur sebagai sumber vitamin dan mineral. Pada lapisan ketiga,dengan proporsi lebih kecil lagi, ada kelompok lauk pauk sebagai sumber protein. Dan pada puncak tumpeng yang merupakan proporsi terkecil terdapat kelompok makanan yang dikonsumsi sedikit saja yaitu gula, minyak, lemak dan garam.

Dipilihnya tema seminar “Pola Makan Gizi Seimbang Meningkatkan Kualitas Hidup” merupakan salah satu upaya Depkes bekerjasama dengan Persagi untuk memasyarakatkan pola makan gizi seimbang sebagai gaya hidup sehari-hari. Melalui acara ini, diharapkan para peserta seminar akan lebih memahami pedoman gizi seimbang, dapat menerapkan sebagai gaya hidup sehari-hari, sekaligus dapat berperan sebagai penggerak, pelopor dan motivator dalam menerapkan pola makan gizi seimbang di masyarakat, kata dr. Budiharja.

Sesuai dengan tema, dalam seminar akan dibahas Kebijakan Program Gizi oleh Dirjen Bina Kesmas, Mengapa Tubuh Kita Memerlukan Gizi Seimbang oleh dr. Safri Gurichi,MPH, Dekan Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Univ. Muhammadiyah Jakarta, dan Penerapan Pola Makan Gizi Seimbang dalam Keluarga oleh Ir. Rossi Anton Apriyantono, MSc., dari Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) serta presentasi contoh makanan sehat oleh Tuti Soenardi.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-5223002 dan 52921669, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: