Indonesia Masih Tertinggal Beberapa Sektor MDG

Indonesia Masih Tertinggal Beberapa Sektor MDG MDGs Progres Report in Asia & The Pacific yang diterbitkan UNESCAP memantau Indonesia masih mengalami keterlambatan dalam proses realisasi pencapaian Tujuan Pembangunan Millenium (TMP) / Millenium Development Goals (MDG). Terlihat pada masih tingginya angka kematian ibu melahirkan, masih rendahnya kualitas sanitasi & air bersih, laju penularan HIV/Aids yang kian sulit dikendalikan, serta meningkatnya beban utang luar negeri yang kian menumpuk. Sektor-sektor tersebut jelas memberikan pengaruh pada kualitas hidup manusia Indonesia yang termanifestasi pada posisi peringkat Indonesia yang kian menurun pada Human Development Growth Index per 2010. Pada tahun 2006 Indonesia menyentuh peringkat 107 dunia, 2008 di 109, hingga tahun 2009 sampai dengan 2010 masih di posisi 111. Selisih 9 peringkat dengan Palestina (West Bank & Gaza Strip) yang berada di posisi 101. Sulit dipungkiri, untuk wilayah Asia Selatan dan Tenggara memang masuk dalam kategori laju pertumbuhan pencapaian MDG terendah. Asia Selatan senantiasa tergolong paling tertinggal dalam mengurangi kemiskinan dan kelaparan dibandingkan tetangga wilayah terdekat, Asia Pasifik. Walau Indonesi a terpantau telah berhasil memangkas separuh dari proporsi penduduk yang hidup dibawah garis kemiskinan, namun laju pencapaian Indonesia dalam mencapai gol pembangunan milenium masih terkendala beberapa sektor. Seperti diantaranya meroketnya harga-harga pangan, energi, dan krisis finansial yang terjadi beberapa tahun terakhir ini. Dibalik keadaan ini, optimisme disampaikan oleh Wakil Presiden Boediono ketika membuka Special Ministerial Meeting for MDGs Review in Asia and The Pasific: Run Up to 2015 di Jakarta, Selasa (23/8). Dimana program PBB untuk menekan angka penduduk dibawah garis kemiskinan di Indonesia ini akan dievaluasi pada MDGs + 10 Summit pada bulan September 2010. Wapres menekankan, situasi perkembangan MDG di Indonesia dinilai memerlukan peningkatan kerjasama regional serta didukung penyediaan dana yang memadai. Meninjau masih banyaknya terjadi fenomena kemiskinan ekstrem, kelaparan pada anak-anak, dan kurangnya pemerataan akses pendidikan dasar. Salah satu manifesto fenomena kemiskinan ekstrem di Indonesia yang sedang hangat mengemuka ketika kita dikejutkan berita seorang ibu yang mengajak dua anaknya untuk bunuh diri akibat himpitan hutang dan kemiskinan di Dusun Bedok, Desa Tempeh Lor, Kecamatan Tempeh, Lumajang, Jawa Timur. Sementara rakyat masih diposisi dalam himpitan kenaikan bahan pangan.[](DA)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: