Pertanyaan Seputar Malaria

Inilah beberapa hal seputar malaria yang disampaikan Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan RI

1. Apakah kita dapat menghindari gigitan nyamuk yang sudah membawa plasmodium?

Setiap orang bisa terkena gigitan nyamuk, kapan saja. Namun nyamuk malaria ini jam menggigitnya  menjelang magrib sampai malam atau tengah malam. Untuk menghindarinya jangan melakukan aktivitas didekat perindukan nyamuk malaria seperti sumber air minum, danau/lagoon, sawah, sungai pada malam hari di daerah endemis malaria.

Cara pencegahan dengan menggunakan pakaian tertutup/ lengan celana panjang (sarung, dll), repelan, kawat kasa, yang pasti tidur di dalam kelambu berinsentisida. Kita tidak akan tahu nyamuk mana yang membawa plasmodium kecuali ditangkap dan diperiksa di bawah mikir

2. Bagaimana mendeteksi dininya? Apakah setiap demam kita harus periksa itu malaria atau bukan?

Hanya untuk di daerah-daerah malaria.

3. Cuaca ekstrem bisa berpengaruh terhadap pertumbuhan malaria. Ekstrem yang seperti apa?

Curah hujan yang sangat lebat menyebabkan tumbuhnya breeding places dimana-mana sehingga populasi nyamuk meningkat. Cuaca yang sangat panas membuat umur nyamuk lebih pendek tapi dia lebih sering menggigit/ menghisap darah untuk mematangkan telurnya, namun biasanya pada musim kering populasi nyamuk akan berkurang.

4. Bagaimana fungsi  kina sebagai obat malaria?

Sampai saat ini Kina belum terbukti resisten terhadap Plasmodium, karena penggunaannya tidak seperti kloroquin saat itu. Sekarang kina kita ‘simpan’ agar tetap poten. Dunia ilmu terus berkembang dengan ditemukan ACT maka saat ini, inilah obat pilihan terbaik untuk malaria. Kalau kita menggunakan kina sembarangan bisa saja terjadi resistensi.

5. Bagaimana agresivitas plasmodium tersebut di Jakarta?

Jakarta sudah bebas malaria indiginous dan tidak ditemukan nyamuk vektornya/anopheles krn perubahan/perbaikan kondisi lingkungan. Untuk penularan perlu ke 3 faktor, ada host agent/vektor dan lingkungan tempat perindukan nyamuk.

6. Bagaimana mewaspadainya?

Surveilans vektor, survei demam, perbaikan kondisi lingkungan. Penyuluhan pada masyarakat untuk gotong royong membersihkan lingkungan, segera berobat kalau demam. Minum obat sesuai anjuran.

7. Siapa saja/ umur berapa yang dianjurkan menggunakan kelambu insektisida? efektivitasnya bagaimana  mengingat kita juga beraktivitas di luar?

Prinsipnya semua golongan umur dan jenis kelamin, namun prioritas saat ini pada kelompok berisiko yaitu ibu hamil dan balita. Efektivitas 3 sampai 5 tahun.

8. Apakah di daerah non-endemis atau endemis sedang masih perlu menggunakannya mengingat ada kemungkinan penderita yang berpindah ke daerah non-endemis?

Di daerah non endemis tidak perlu pakai kelambu. Kecuali untuk mencegah gigitan nyamuk lainnya ( Aedes tapi minutes siang hari kan beraktivitas, nyamuk culex/yang bs membawa fil). Atas inisiatif sendiri (mandiri) diperbolehkan menggunakan kelambu di daerah manapun.

Prof dr Tjandra Yoga Aditama SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE
Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL)
Kementerian Kesehatan RI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: